Selasa, 17 November 2015

I-DOSER, NARKOBA VERSI DIGITAL? Benarkah Cara Baru Menikmati Narkoba?

Pada pertengahan Oktober 2015 lalu, dunia maya dikejutkan dan dihebohkan oleh aplikasi ‘narkoba’ yang bisa di download melalui internet, yang bernama: i-Doser. Apakah betul aplikasi ini bisa membuat orang menjadi fly, layaknya orang yang mengkonsumsi narkoba?

Dunia maya kini dihebohkan oleh I-DOSER yang kembali muncul ke permukaan. Aplikasi ini pernah membuat heboh sekolah di Amerika dan di beberapa negara lainnya sejak 2010 lalu. i-Doser merupakan sebuah aplikasi suara yang masuk ke kuping dan mengecoh kinerja otak. Ini disebut sebagai narkoba digital karena kerap membuat pendengarnya kecanduan dan hilang akal, layaknya mabuk. Namun, bentuknya sama sekali tidak seperti obat atau serbuk, melainkan hanya gelombang suara dalam format MP3. Aplikasi i-Doser bisa di-download ke smartphone berbasis Android ataupun iOS. Dengan memilih dosis yang tepat, maka gelombang suara yang masuk ke kuping akan mempengaruhi kinerja otak. Penggunanya kerap menjadi rileks saat mendengarkan suara yang mengalun. Inilah yang membuat kecanduan.
Dalam sebuah pemberitaan di News.com, beberapa siswa sekolah di Mustang High School, Oklahoma kedapatan ‘teler’ karena mendengarkan i-Doser. Bahkan, kepolisian setempat sempat menganggap hal ini sebagai hoax, meski tetap melakukan investigasi. Sayangnya, pihak berwajib tidak bisa menindak siapapun. Hal ini dikarenakan i-Doser tidak masuk kategori narkotika dan obat-obatan karena bentuknya hanyalah gelombang suara yang mengalun secara berulang.
Dalam penjelasan di aplikasi tersebut, i-Doser ternyata mengandung irama binaural atau binaural beats. Suara binaural merupakan dua nada yang mengalun dalam frekuensi nada di bawah 1,00 Hz. Ditemukan pada tahun 1839 oleh Heninrich Wilhelm Dove, dia menggunakan untuk relaksasi, meditasi dan kreativitas.
Sebenarnya tidak ada yang berbahaya dari binaural beats di i-Doser. Bahkan, musik binaural kerap dijadikan terapi untuk meningkatkan kemampuan otak, termasuk juga untuk meditasi, mencegah stroke, penyakit alzheimer atau parkinson. Bahkan, bisa menimbulkan orgasme,” ujar Paul Rademacher dari Monroe Institute di Virginia, Amerika, seperti dikutip dari Seattle Times, (13/10). Psycology Today juga menyebut, metode ini digunakan untuk penelitian klinis terkait siklus tidur dan pendengaran. Metode ini menghasilkan gelombang pada otak untuk mengobati penyakit kecemasan, dan pernah digunakan oleh University of Virginia untuk terapi rasa sakit dan penyakit kecemasan. Konselor kesehatan mental, Jed Shlackman, mengaku berhasil memanfaatkan metode ini untuk mengobati pasien Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Slackman menyebut metode ini relatif aman dan tidak lebih berbahaya dibandingkan aktivitas lain seperti berbelanja atau berolahraga. Sementara, Paul Dillon, Pendiri Drug and Alcohol Research and Training Australia mengatakan, tidak ada efek seperti penyalah-gunaan obat terlalu dalam dari isi audio yang ditawarkan i-Doser. Dia percaya itu hanya sugesti semata.
Dia justru khawatir dapat merembet seperti budaya obat terlarang, yakni orang rela membuang uang dengan cepat untuk menggunakannya. Apalagi paling menyedihkan karena menargetkan kelompok yang paling rentan, anak muda yang ingin terlihat keren untuk melakukannya. Memang, dalam situs juga menawarkan pelanggannya kesempatan untuk menjadi ‘dealer dosis’ dengan menjual audio tersebut ke lingkungan temannya.Namun, seorang neuroscientist di McGill University di Montreal, Daniel Levitin membantah hal tersebut. “Tidak ada audio binaural yang berefek seperti obat terlarang,” katanya. Sama seperti sistem saraf kita yang dipengaruhi dengan melihat matahari terbenam atau anak anjing, Dr Levitin mengatakan otak kita terus-menerus berinteraksi dengan lingkungan eksternal kita.
Dijelaskan pendirinya, Nick Ashton, audio i-Doser ditemukan sejak 2005 dan sampai sekarang telah di-download lebih dari 10 juta orang. Untuk memilikinya tidak mudah. Di toko aplikasi Apple iTunes, harga software ini dibanderol lebih dari Rp. 60 ribu. Sedangkan di PlayStore Android, harganya mencapai Rp. 71 ribu.


Blokir Situs i-Doser

Sementara di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyatakan telah memblokir empat domain aplikasi i-Doser. Hal itu dilakukan menyusul keresahan masyarakat akibat beredarnya informasi terkait sensasi psikologis yang timbul dari aplikasi tersebut.
Mengingat informasi ini telah menimbulkan keresahan masyarakat, maka kemenkominfo sementara ini telah meminta kepada Internet Service Provider (ISP) agar memfilter empat nama domain agar tidak dapat diakses oleh publik,” kata Kepala Pusat Hubungan Masyarakat Kemenkominfo Ismail Cawidu melalui keterangan resminya (14/10). Adapun keempat situs yang diblokir adalah i-doser. com, idoseraudio.com; idosersofware.com
dan istoner.com. Ismail mengungkapkan pemblokiran masih bersifat sementara. Keputusan apakah pemblokiran akan dilakukan permanen atau akan dibuka kembali baru akan diambil pada rapat anggota Panel Forum Penanganan Situs Internet Bermuatan Negatif (Forum PSIBN). Sebelumnya, Menkominfo Rudiantara telah meminta pegawai Kemenkominfo untuk
mengecek soal I-Doser. Jika dirasa memberi efek buruk, maka akan dibawa ke tim Forum PSIBN untuk diputuskan apakah perlu diblokir atau tidak.
Sementara itu, Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam keterangan resminya telah menyatakan gelombang audio binaural I-Doser tidak termasuk dalam golongan narkotika. Pasalnya, Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 mendefinisikan narkotika sebagai zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.


Penipuan

Merespon pemblokiran ini, Alfons Tanujaya dari Vaksincom berpendapat, cara ini tidak efektif karena tidak disertai memblokir aplikasinya di toko aplikasi sehingga masih bisa diakses pengguna smartphone. Alfons membandingkan kasus i-Doser, yang disebut-sebut sebagai ‘narkoba digital’, dengan pemblokiran situs berbagi video Vimeo. Pemblokiran ke website Vimeo efektif, sedangkan i-Doser tidak. “Seharusnya, jika ingin meredakan keresahan di masyarakat pemerintah memberikan release resmi atas kebenaran hoax ini berdasarkan data dari BNN dan jika HOAX tersebut meresahkan, harusnya yang diblokir bukan situsnya tetapi penyebaran hoax-nya,” katanya (15/10).
Berdasarkan analisa Vaksincom, klaim i-Doser mampu menghadirkan sensasi seperti narkoba digital tidak didukung oleh bukti ilmiah. Alfons juga mengutip pernyataan Helane Wahbeh dari Departemen Neurologi OHSU Oregon Health and Science University soal teknikbinaural beats yang diklaim dapat meningkatkan aktivitas gelombang otak (brain wave). “Jawabannya, sama sekali tidak ada peningkatan gelombang otak,” ujar dia. Vaksincom menemukan sejumlah informasi yang menyesatkan maupun tak akurat dalam website dan aplikasi i-Doser. Aplikasi ini disebut memanfaatkan institusi pendidikan yang ternama untuk menarik minat. Begitu pun klaim i-Doser bahwa aplikasi itu sudah digunakan oleh lebih dari 10 juta pengguna tak didukung data yang independen. Malah, dari data toko aplikasi, diketahui
bahwa aplikasi itu baru diunduh sekitar 10 ribu pengguna sejak 2010. Juga klaim bahwa mereka didukung Badan Narkotika Nasional, itu diduga palsu.
Kendati demikian, Kemkominfo direkomendasikan untuk melanjutkan pemblokiran, setelah rapat Panel IV Bidang Investasi Illegal, Penipuan, Perjudian, Obat dan Makanan dan Narkoba. Rapat, yang digelar pada Kamis (15/10), yang dihadiri perwakilan dari Badan Narkotika Nasional, BP POM, OJK, Asosiasi Pakar (KADIN, ISOC, APJII) dan beberapa tim ahli.
Rapat itu menyimpulkan bahwa situs i-Doser menggunakan nama yang dilarang dan bersifat melanggar ketertiban Umum. “Dalam hal ini menggunakan istilah kokain, marijuana, narkotika dan psikotropika lainnya sesuai dengan pasal 5 UU Nomor 15 Tahun 2001,” demikian salah satu kesimpulan rapat itu. Selain itu, antara penamaan yang ditampilkan dengan produk yang dijual tidak sesuai dengan yang sebenarnya sehingga termasuk penipuan dan penyesatan. Dampaknya terjadi kerugian jual beli dan transaksi elektronika. Ini sebagaimana diatur dalam Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik pasal 28 dan Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Istilah “narcotic digital” disebut hanyalah strategi pemilik situs. Dari hasil telaah BNN diketahui bahwa i-Doser tidak mengandung unsur narkotik atau unsur obat-obatan berbahaya. “Unsur yang ditawarkan dalam situs tersebut hanyalah unsur musik yang dikemas dalam gelombang suara atau frekuensi yang berbeda antara telinga kiri dan telinga kanan,” begitu risalah rapat itu.

Lalu bagaimanakah masyarakat menyikapi fenomena ini? Tentunya masyarakat harus mewaspadai fenomena i-Doser ini serta menyikapinya dengan bijaksana.
Artinya, jangan sampai fenomena ini dapat menimbulkan dampak negatif dalam masyarakat,  terutamanya terhadap  generasi muda, untuk itu para orang tua agar waspada dan mengawasi anaknya dalam berperilaku dan menggunakan media internet.

Serta peran Pemerintah melalui instansi-instansi terkaitnya agar berkoordinasi dengan baik mewaspadai, mengantisipasi dan melakukan tindak nyata yang tegas dalam mencegah segala kemungkinan dampak negatif yang mungkin dapat terjadi sebelum semuanya terlambat. 


(Sumber Majalah BISKOM Edisi November 2015)

Senin, 09 November 2015

GP Valencia 2015, Sebuah Anti Klimaks yang Hambar

Akhirnya, seperti yang kita ketahui bersama, sebuah anti klimaks yang gitu-gitu aja dan hambar telah terjadi. Trio Spanyol merajai perhelatan terakhir di rumah mereka sendiri. Tidak ada yang istimewa, Lorenzo yang start terdepan, terus di kawal oleh kompatriotnya Dou Repsol Honda sampai garis finish, dan seperti sudah di setting, Lorenzo melenggang di garis pertama tanpa ada perlawanan yang berarti dari lawan-lawannya. Dan gelar juara dunia Motogp 2015 diraihnya dengan hambar.

Dan untuk Mark Marquez perilakunya sepertinya semakin memperkuat dugaan-dugaan miring terhadapnya sebelumnya, ia tampak bermain-main dengan memberikan Lorenzo posisi terdepan, ia nampak seperti pengawal dari pada bersaing dengan sang juara. Tidak ada niatan untuk mendahului Lorenzo. keagresivannya menguap begitu saja. 

Ditambah perilakunya yang membingungkan di saat menjelang akhir lomba di mana Dani Pedrosa yang mencoba menyalip Lorenzo terlihat berusaha dihalangi oleh Mark Marquez 

Sebuah coreng telah ia coretkan ke mukanya sendiri. Semakin memperjelas seperti apa perilakunya.
Mungkin memang mentalnya belum siap, belum dewasa atau memang begitu perilakunya.

Dan atas ulahnya yang tidak 'wajar' itu, Mark Marquez akan menuai banyak kritik dan polemik berkepanjangan. Sungguh sangat disayangkan, seorang Mark yang memiliki bakat dan potensi yang begitu besar, seketika reputasinya jadi berantakan oleh ulahnya sendiri.

Sedangkan untuk Rossi, tepuk tangan dan rasa salut penuh hormat pantas ia terima atas usahanya untuk meraih gelar juara. Dengan posisi start paling belakang dan mampu over taking sampai ke posisi empat adalah usaha yang luar biasa. Kita layak mengangkat topi atas usahanya yang habis-habisan itu.

Bisa jadi secara de jure Lorenzo adalah 'juaranya', yah ... juara dalam tanda kutip, lebih banyak yang secara de facto menganggap Rossi lah pemenangnya. Setidaknya Rossi telah memenangkan simpati dari banyak penggemar motogp, tidak hanya para penggemarnya saja, tapi juga peminat motogp pada umumnya.
Lorenzo menjadi juara dengan banyak kritikan (penulis membatasi tidak membahas hal ini lebih jauh, untuk menjaga netralitas), Anda bisa mencari beritanya pada website lain dan membrosingnya di google untuk mengetahuinya lebih lanjut.  
   
Dan persaingan musim depan akan semakin seru, perang dingin antara duo Yamaha Movistar akan berlanjut. Belum lagi perseteruan antara Rossi dan Marquez.    

Akhirnya perlombaan telah selesai dan sang juara telah ditentukan, tapi ini bukanlah sebuah akhir dari segalanya, melainkan merupakan sebuah awal dari babak-babak selanjutnya yang akan lebih menegangkan dan sepertinya akan lebih banyak lagi trik-trik yang muncul. Persaingan yang lebih panas dan lebih ketat lagi. 

Jadi kita tunggu saja drama-drama yang lebih seru dan dramatis selanjutnya pada sesi motogp berikutnya.

Selamat menikmati....dan tunggu ulasan saya berikutnya (itu jika Anda menyukainya). Semoga bermanfaat. 

Minggu, 08 November 2015

Jelang Perlombaan Pamungkas Motogp 2015 Valencia, Menjadi Puncak Ketegangan yang sangat mendebarkan

Kejuaraan Dunia Motogp akan mencapai puncaknya, besok malam 08 November 2015 (WIB) di Valencia. Dimana Duo Rider Yamaha Movistar saling berebut untuk menjadi juara.

Unik, menarik dan juga sangat menegangkan.

Unik, karena baru kali ini Sang Calon Juara Valentino Rossi harus menjalani hukuman cukup berat yaitu pengurangan point dan harus start di grid paling belakang menjadi penyebab berkurangnya kans Rossi untuk meraih juara dunia motogp. 
Sedangkan sang Partner, sekaligus pesaing beratnya, Jorge Lorenzo sedang bagus-bagusnya, berhasil meraih pole position di grid terdepan.

Dengan selisih 7 point, segalanya bisa terjadi, kedua-duanya sama-sama mempunyai peluang untuk menjadi juara dunia Motogp 2015. Hal ini tentunya sangat menarik untuk ditonton.

Menganalisa kondisi yang ada, terdapat beberapa prediksi yang kemungkinan bisa terjadi di Valencia tanggal 8 November 2015 nanti.  

Prediksi 1 :
Kalau diprediksi perlombaan berjalan lancar dan cuaca cerah, kemudian Lorenzo berhasil meraih podium sedangkan Rossi finish diurutan jauh di belakang, sehingga secara matematis selisih point tidak terkejar, maka Lorenzo yang jadi juaranya.

Prediksi 2 :
Kalau tiba-tiba cuaca berubah dan turun hujan, kemungkinan besar Lorenze akan melambat dan Rossi yang lebih mampu mengendalikan motor pada cuaca hujan akan dapat meraih point lebih tinggi dari Lorenzo, untuk itu maka Rossi bisa menjadi juaranya.

Prediksi 3 : 
Valentino Rossi bertanding dengan luar biasa, berhasil menyusul Lorenzo, dan finish di belakangnya. Rossi bisa juara.

Prediksi 4 :      
Kemungkinan yang paling kontroversial, namun tetap rasional, Lorenzo gagal finish alias terjatuh, maka Rossi lah juaranya. Kalau sebaliknya, Rossi jatuh dan Lorenzo berhasil finish, maka Lorenzo sang juaranya.

Terlepas dari segala macam kontroversi yang berkembang, masing-masing fans baik Rossi maupun Lorenzo tentunya berharap jagoannya akan menang.

Namun apa pun hasilnya, masing-masing pihak tetap harus menjaga sportivitas dan tidak berlebihan. Ya... masing-masing pihak harus mempersiapkan diri untuk menerima kemenangan maupun kekalahan.

Untuk yang menang ... selamat, untuk yang kalah ... terimalah kekalahan dengan lapang dada, terimalah kenyataan yang terjadi ... walaupun pahit sekalipun. Semua harus tetap berjalan ... hidup terus berjalan. Keep Move On ...sebab ada yang lebih menentukan dari semua yang ada ... yaitu TAKDIR ...

Selamat menyaksikan jalannya pertandingan, siapkan diri anda untuk menerima kenyataan yang terjadi apapun itu.